Dolar Amerika Serikat bergerak sedikit menguat terhadap sebagian besar mata uang utama pada perdagangan Senin (07/6). Penguatan ini terjadi saat pasar mencermati kesepakatan OPEC+ untuk menaikkan kuota produksi minyak dan menunggu risalah rapat kebijakan Federal Reserve bulan Juni yang akan dirilis pekan ini. Bloomberg Dollar Spot Index naik tipis 0,1% menjelang sesi Eropa bergerak dikisaran 100,707. Pada pekan lalu, indeks dolar sempat melemah 0,3% setelah data tenaga kerja Amerika Serikat keluar lebih lemah dari perkiraan. Tekanan terhadap dolar juga muncul setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyatakan bahwa tekanan inflasi mulai mereda. Namun, penguatan dolar kali ini dinilai lebih sebagai konsolidasi daripada awal reli baru. Analis OCBC Christopher Wong menilai data AS yang lebih lemah sudah mengurangi momentum dolar, tetapi belum cukup untuk menyebut dolar benar-benar berbalik melemah. Fokus pasar masih tertuju pada data ekonomi AS berikutnya dan komentar pejabat The Fed. Yen Jepang dan dolar Selandia Baru menjadi mata uang yang paling tertekan di antara kelompok G10. USD/JPY naik 0,4% ke 161,98, sementara NZD/USD turun 0,4% ke 0,5690. Trader yen masih waspada terhadap risiko intervensi Jepang dan berakhirnya opsi bernilai hampir US$8 miliar yang dapat meningkatkan volatilitas. Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun 2 basis poin ke 4,47% setelah pasar tunai kembali dibuka usai libur AS. Sementara itu, AUD/USD turun tipis ke 0,6931 dan EUR/USD melemah ke 1,1429. Investor kini menunggu data penjualan ritel serta harga produsen zona euro, sambil mencari petunjuk lebih jelas dari risalah The Fed terkait arah suku bunga.
Sumber: Newsmaker.id
