Emas Tahan $4.000, Ancaman Kenaikan Suku Bunga Makin Nyata

Harga emas dunia masih berada dalam tekanan pada perdagangan Jumat (23/10/2026), meskipun berhasil kembali bergerak di atas level psikologis US$4.000 per troy ounce setelah sebelumnya menyentuh posisi terendah dalam tiga bulan terakhir. Emas spot (XAU/USD) kesulitan mempertahankan momentum pemulihan pada sesi Eropa akibat menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Meskipun sejumlah pejabat The Fed memberikan sinyal bahwa belum ada urgensi untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, pelaku pasar masih memperkirakan probabilitas sekitar 80% bahwa bank sentral AS akan kembali memperketat kebijakan moneternya pada Desember. Kondisi tersebut membatasi daya tarik emas karena kenaikan suku bunga meningkatkan biaya peluang untuk memegang logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil bunga.

Tekanan terhadap emas semakin besar akibat lonjakan harga minyak dunia yang memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi global. Harga minyak mentah masih bergerak di sekitar level tertinggi dalam satu bulan terakhir, menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran semakin memanas setelah serangkaian serangan drone dan rudal dilaporkan menargetkan bandara serta infrastruktur energi strategis kerajaan tersebut.

Di sisi lain, Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa serangan baru Amerika Serikat dapat memicu respons militer yang lebih luas, termasuk terhadap negara-negara tetangga dan pangkalan yang digunakan dalam operasi militer AS. Laporan mengenai kemungkinan operasi militer lanjutan AS dan Israel terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu November turut meningkatkan ketidakpastian kawasan. Meski konflik geopolitik biasanya mendukung permintaan emas sebagai aset aman, risiko kenaikan inflasi energi justru memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat dan membatasi penguatan harga logam mulia.

Perhatian investor kini tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober mendatang, ketika The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya. Pasar akan mencermati pernyataan kebijakan dan konferensi pers Ketua The Fed Kevin Warsh untuk memperoleh petunjuk mengenai arah suku bunga pada Desember.

Selain itu, laporan awal pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat kuartal ketiga serta data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE), yang menjadi indikator inflasi utama The Fed, dijadwalkan dirilis pada 29 Oktober. Kedua data tersebut berpotensi memberikan gambaran lebih jelas mengenai ketahanan ekonomi AS dan perkembangan tekanan harga. Selama ekspektasi kenaikan suku bunga tetap tinggi serta dolar AS mempertahankan penguatannya, harga emas diperkirakan masih menghadapi tekanan, meskipun peluang pemulihan teknikal tetap terbuka apabila sentimen pasar mulai berubah.

Kesimpulan

Pergerakan emas yang masih tertahan di sekitar US$4.000 menunjukkan bahwa sentimen bearish belum sepenuhnya mereda, meskipun harga mulai menunjukkan upaya pemulihan dari level terendah tiga bulan.

Dari sisi fundamental, terdapat tiga faktor utama yang membatasi penguatan emas, yakni ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Desember, tingginya harga minyak yang memperbesar risiko inflasi, serta pemulihan dolar AS dari level terendah tiga pekan.

Secara teknikal, area US$4.000 menjadi support psikologis yang penting. Jika harga gagal mempertahankan level tersebut, tekanan jual berpotensi berlanjut menuju US$3.950. Sebaliknya, jika emas mampu kembali menguat dan menembus area US$4.050–4.100, peluang pemulihan jangka pendek dapat meningkat. Level tersebut merupakan skenario pemantauan, bukan kepastian target harga.

Fokus utama pasar: Keputusan The Fed pada 28 Oktober serta rilis data PDB dan inflasi PCE AS pada 29 Oktober akan menjadi katalis penting bagi arah emas berikutnya. Selama The Fed mempertahankan sikap hawkish, penguatan emas berpotensi tetap terbatas.


Sumber: Newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.