Harga emas spot (XAU/USD) mengawali perdagangan sesi Asia pada Senin (12/10) dengan perhatian investor tertuju pada keberlanjutan pemulihan harga setelah mencatat penguatan pada akhir pekan lalu. Emas sebelumnya melonjak sekitar 1,5% pada Jumat (9/10) dan sempat menyentuh level tertinggi dalam sepekan di US$4.194,36 per troy ons, setelah bangkit dari posisi terendah dalam dua bulan. Pemulihan tersebut didorong aksi beli pada harga rendah serta pelemahan dolar AS, meskipun tingginya yield obligasi pemerintah Amerika Serikat masih membatasi ruang penguatan logam mulia.
Ketegangan geopolitik Timur Tengah kembali menjadi perhatian utama pada awal pekan setelah serangan terhadap infrastruktur dan jalur pelayaran energi meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan minyak global. Harga minyak Brent kembali bergerak di atas US$105 per barel seiring meningkatnya risiko gangguan pengiriman melalui kawasan Teluk dan Selat Hormuz. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik. Namun, lonjakan harga energi juga menimbulkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi global dapat bertahan lebih lama.
Di sisi kebijakan moneter, prospek emas masih dibayangi sikap Federal Reserve yang cenderung berhati-hati dalam menghadapi risiko inflasi. Yield Treasury AS tenor 10 tahun tercatat berada di sekitar 5,26% pada perdagangan Jumat, mencerminkan tingginya imbal hasil obligasi yang menjadi pesaing emas sebagai instrumen investasi. Meskipun peluang kenaikan suku bunga Fed pada Oktober relatif terbatas, pasar masih memperhitungkan kemungkinan pengetatan moneter menjelang akhir tahun. Kombinasi yield tinggi dan ekspektasi suku bunga yang tetap ketat berpotensi menahan kelanjutan pemulihan harga emas.
Terhadap dolar AS, situasi tersebut menciptakan sentimen yang saling bertolak belakang. Meningkatnya ketegangan geopolitik berpotensi mendorong permintaan terhadap dolar sebagai aset aman, sementara lonjakan harga minyak dapat memperkuat kekhawatiran inflasi dan mempertahankan ekspektasi kebijakan moneter Fed yang ketat. Jika yield Treasury kembali meningkat, dolar berpeluang memperoleh dukungan tambahan sekaligus membatasi penguatan emas. Sebaliknya, apabila yield melemah dan ekspektasi kenaikan suku bunga mereda, dolar berpotensi terkoreksi sehingga memberikan ruang bagi emas untuk melanjutkan pemulihannya pada perdagangan awal pekan.
Sumber: Newsmaker.id
