Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan bahwa Teheran akan membalas setiap serangan terhadap infrastruktur negaranya. Pernyataan ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengebom jembatan atau pembangkit listrik Iran jika kapal di Selat Hormuz kembali diserang. Araghchi menegaskan bahwa doktrin perlindungan Iran jelas, yaitu “mata dibalas mata”. Menurutnya, setiap agresi terhadap Iran, termasuk terhadap infrastruktur, akan memicu respons yang kuat dan tegas. Ia juga menyebut ancaman Amerika Serikat hanya akan membalas eskalasi perang. Peringatan serupa juga disampaikan oleh negosiator utama sekaligus Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Ia mengatakan bahwa jika Iran tidak dapat mengekspor minyaknya, maka tidak ada negara lain di kawasan yang dapat melakukannya. Ketegangan di kawasan semakin meningkat setelah Garda Kapal Revolusi Iran menyatakan salah satu dari tiga kapal tanker minyak terbakar akibat ledakan di selatan Selat Hormuz. Militer Iran juga menegaskan bahwa tidak ada kapal tanker yang boleh masuk atau keluar dari jalur penting tersebut tanpa koordinasi dengan Iran. Di sisi lain, militer Kuwait mengatakan telah mencegat drone musuh setelah beberapa hari terakhir menjadi target serangan Iran. Sementara itu, media semi-resmi Iran, Mehr, melaporkan bahwa sebuah lokasi dekat Ahwaz terkena serangan rudal Amerika Serikat. Dari sisi dampak pasar, ancaman balasan Iran dan ketegangan di Selat Hormuz berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi. Pada pukul 06.27 WIB, WTI naik 3,35% ke level US$87,05 per barel. Jika eskalasi berlanjut, risiko gangguan pasokan energi dapat meningkat, mendorong inflasi global, menekan aset berisiko, serta membuat dolar AS dan emas bergerak lebih fluktuatif.
Sumber: Newsmaker.id
Iran Siapkan Balasan, Harga Minyak Makin Panas
