Amerika Serikat dan Iran disebut semakin mendekati kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah menekan pasar global dalam beberapa pekan terakhir. Presiden AS Donald Trump menyatakan adanya “kemajuan besar” dalam pembicaraan dengan Teheran, sehingga Washington memutuskan untuk menghentikan sementara operasi militer “Project Freedom” di Selat Hormuz. Operasi tersebut sebelumnya ditujukan untuk membantu kapal-kapal komersial keluar dari jalur penting perdagangan energi dunia.
Sinyal de-eskalasi ini muncul setelah pemerintah AS menyatakan gencatan senjata dengan Iran masih bertahan. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan situasi belum sepenuhnya pulih, tetapi gencatan senjata tetap berlaku. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut operasi ofensif telah berakhir, dengan fokus Washington kini bergeser pada pengamanan jalur pelayaran dan upaya diplomasi.
Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan Teheran hanya akan menerima kesepakatan yang dianggap adil dan menyeluruh. Pernyataan ini menunjukkan Iran masih membuka ruang diplomasi, meski belum ada respons final terhadap langkah terbaru AS. Negosiasi juga disebut melibatkan jalur diplomatik melalui negara perantara, termasuk Pakistan dan China.
Bagi pasar global, kabar ini menjadi katalis penting karena konflik AS-Iran sebelumnya memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak dari kawasan Teluk. Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi dunia, sehingga setiap tanda meredanya ketegangan dapat menekan harga minyak dan mengurangi permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS. Namun, pasar masih berhati-hati karena situasi di kawasan tersebut belum sepenuhnya stabil.
Penyebab :
Harapan damai muncul setelah AS menghentikan sementara operasi di Selat Hormuz dan mengklaim adanya kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran. Di sisi lain, Iran juga memberi sinyal bersedia mempertimbangkan kesepakatan, selama isi perjanjian dinilai adil dan komprehensif.
Sumber: Newsmaker.id
