Harga emas masih kesulitan melanjutkan pemulihan pada sesi Asia, meski sempat bergerak naik tipis dari level terendah lebih dari satu bulan. XAU/USD masih berada dekat area US$4.500 per ons, dengan tekanan utama datang dari penguatan dolar AS dan meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed bisa kembali bersikap hawkish.
Secara fundamental, ketegangan AS-Iran masih menjadi faktor besar yang memengaruhi pasar. Namun, kali ini konflik tersebut tidak sepenuhnya menguntungkan emas. Eskalasi di Teluk Persia justru mendorong harga minyak naik, memicu kekhawatiran inflasi baru, dan membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Gencatan senjata antara AS dan Iran kini terlihat semakin rapuh setelah terjadi peningkatan kekerasan di sekitar Selat Hormuz. Uni Emirat Arab dan Korea Selatan melaporkan adanya serangan terhadap kapal di jalur penting tersebut. UAE juga menyebut kebakaran terjadi di pelabuhan minyak Fujairah setelah serangan rudal dan drone Iran.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran agar tidak menyerang kapal Amerika yang mengawal pelayaran melalui Selat Hormuz dalam inisiatif baru bernama Project Freedom. Pernyataan keras ini membuat risiko eskalasi semakin besar dan menjaga ketidakpastian geopolitik tetap tinggi.
Meski biasanya konflik geopolitik mendukung emas sebagai aset safe haven, kondisi saat ini berbeda karena pasar lebih fokus pada dampak inflasi dari lonjakan harga energi. Peluang kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun disebut meningkat tajam, sehingga imbal hasil obligasi AS dan dolar ikut mendapat dukungan. Hal ini menjadi tekanan bagi emas karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Secara outlook, emas masih cenderung rentan selama dolar AS dan yield AS tetap kuat. Kenaikan harga emas berpotensi terbatas dan rawan kembali dijual jika tidak ada dorongan beli yang kuat. Pelaku pasar perlu menunggu konfirmasi pemulihan yang lebih jelas sebelum menilai bahwa emas sudah membentuk dasar harga.
5 Inti Poin:
– Emas masih dekat level US$4.500, area terendah lebih dari satu bulan.
– Dolar AS dan yield kuat menahan pemulihan harga emas.
– Konflik AS-Iran memicu lonjakan oil, sehingga risiko inflasi meningkat.
– Ekspektasi The Fed hawkish naik, membuat emas yang tidak berimbal hasil tertekan.
– Kenaikan emas masih rawan dijual, selama belum ada konfirmasi pemulihan kuat.
Sumber: Newsmaker.id
