Harga emas melemah pada perdagangan Asia, Selasa (18/8), dan kembali turun di level US$4.393 per troy ounce. Tekanan terhadap XAU/USD muncul setelah dolar AS melanjutkan rebound dari level terendah dua bulan, didukung kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak.
Sentimen pasar masih dipengaruhi oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve berpeluang menaikkan suku bunga setidaknya satu kali pada 2026. Kenaikan harga energi dinilai dapat kembali memicu tekanan inflasi, sehingga menjaga imbal hasil Treasury AS tetap tinggi dan menjadi beban bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Ketegangan AS-Iran juga ikut menopang permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven. Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran harus menyerah untuk mengakhiri perang yang hampir berlangsung enam bulan. Ia juga menyatakan AS tidak akan memperpanjang memorandum of understanding dengan Iran yang telah berakhir pada Senin.
Risiko geopolitik semakin meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman memperluas serangan terhadap Arab Saudi. Houthi mengklaim telah menargetkan kapal militer Saudi dan beberapa kapal patroli di dekat Mokha, yang berpotensi mengganggu jalur pelayaran Bab el-Mandeb dan menambah kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Dari sisi dampak market, emas berpotensi tetap tertekan selama dolar AS dan yield Treasury masih mendapat dukungan dari risiko inflasi energi. Namun, pelemahan XAU/USD kemungkinan masih terbatas karena ketegangan Timur Tengah tetap menjaga permintaan aset aman. Fokus berikutnya tertuju pada rilis FOMC Minutes pada Rabu, yang dapat memberi petunjuk baru mengenai arah kebijakan The Fed dan menjadi katalis utama bagi pergerakan emas.
Sumber: Newsmaker.id
