Harga emas melanjutkan kenaikan pada perdagangan Selasa (11/08) dan sempat menembus US$4.400 per troy ons. Emas spot bergerak di sekitar US$4.395 setelah menguat sekitar 3,6% dalam dua sesi sebelumnya. Momentum beli secara teknikal masih kuat setelah emas berhasil melewati sejumlah level rata-rata pergerakan penting.
Reli emas masih mendapat dukungan dari data tenaga kerja AS yang melemah. NFP Juli sebelumnya menunjukkan penurunan jumlah pekerjaan dan membuat pasar mengurangi keyakinan terhadap kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Dolar juga sempat melemah setelah data tersebut, memberikan dukungan tambahan bagi emas.
Minat investor terhadap emas juga tetap kuat. Aksi beli saat harga turun terus muncul, sementara aliran dana ke ETF emas di China meningkat. Pembelian emas oleh bank sentral juga masih menjadi penopang penting bagi harga logam mulia.
Fokus terbesar pasar sekarang tertuju pada CPI AS yang akan dirilis Rabu. Data inflasi akan menentukan apakah The Fed masih mempunyai alasan kuat untuk menaikkan suku bunga. Pasar memperkirakan inflasi tahunan masih berada di sekitar 3,4%, sehingga hasil aktual berpotensi memicu volatilitas besar pada emas, dolar, dan yield Treasury.
Namun, risiko inflasi dari harga energi belum hilang. Minyak kembali melonjak setelah ketegangan AS-Iran membuat peluang pembukaan penuh Selat Hormuz semakin tidak pasti. Brent dan WTI mengalami kenaikan tajam pada Senin, sehingga pasar kembali memperhitungkan risiko inflasi energi yang dapat membuat The Fed tetap hawkish.
Analisis Newsmaker: Momentum emas masih cenderung bullish setelah mampu menembus US$4.400. Namun, CPI menjadi ujian utama berikutnya. Inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dapat membuka peluang kenaikan menuju US$4.450–US$4.500. Sebaliknya, CPI yang panas dapat mengangkat dolar dan yield serta memicu profit taking setelah reli tajam emas.
