GBP/USD melemah pada perdagangan Senin (29/06) sesi Asia dan bergerak di sekitar level 1,3200, setelah poundsterling tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat. Pelemahan ini terjadi karena meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian pembicaraan Amerika Serikat dan Iran terkait konflik di kawasan Teluk dan Selat Hormuz. Tekanan terhadap GBP/USD muncul seiring meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven. Dolar AS kembali diburu investor karena pasar mencermati ketidakpastian pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran terkait konflik di kawasan Timur Tengah. Pelaku pasar masih sangat sensitif terhadap perkembangan terbaru dari kawasan tersebut. Berdasarkan laporan Reuters pada Minggu, Amerika Serikat dan Iran disebut sepakat untuk menghentikan sementara aksi saling serang di wilayah Teluk serta melanjutkan pembahasan mengenai sengketa di Selat Hormuz. Pembukaan jalur diplomasi ini terjadi setelah beberapa hari aksi balasan antara kedua negara. Ketegangan meningkat setelah proyektil Iran dilaporkan menghantam sebuah kapal kargo pada Kamis, yang kemudian memicu saling tuduh antara Washington dan Teheran terkait pelanggaran gencatan senjata sementara pada 17 Juni. Dari Inggris, perhatian pasar juga tertuju pada dinamika politik domestik. Setelah Keir Starmer mengundurkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh akibat tekanan politik, Andy Burnham yang baru dilantik sebagai anggota parlemen dijadwalkan menyampaikan visi nasionalnya pada Senin. Minimnya pesaing kuat berpotensi membuka jalan bagi Burnham untuk menjadi Perdana Menteri paling cepat pada 17 Juli.
Sumber: Newsmaker.id
