Harga emas bergerak nyaris tidak berubah pada Jumat (05/6), mencerminkan pasar yang masih kesulitan membaca arah negosiasi AS–Iran untuk mengakhiri perang yang mengguncang pasar global. Bullion bertahan di sekitar US$4.450/oz, setelah naik hampir 1% pada sesi sebelumnya.
Sinyal dari para pihak masih saling bertabrakan. Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan damai berada di “tahap final”, tetapi Menlu Iran Abbas Araghchi menyebut “tidak ada kemajuan nyata” dalam perundingan. Ketidakpastian itu bertambah setelah Hezbollah yang didukung Teheran menolak gencatan Israel–Lebanon yang dimediasi Washington, meragukan upaya AS untuk meredakan konflik regional.
Pekan ini juga diwarnai bentrokan paling serius di Timur Tengah sejak gencatan disepakati pada awal April. Kondisi tersebut menjaga premi risiko tetap ada, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong emas keluar dari pergerakan “range” beberapa pekan terakhir.
Di sisi fundamental, gangguan arus energi melalui Selat Hormuz tetap menjadi kanal utama yang menahan pergerakan emas. Harga energi yang lebih tinggi berisiko menjaga inflasi global, sehingga bank sentral cenderung menahan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan mempertimbangkan pengetatan lingkungan yang biasanya tidak ramah bagi emas karena tidak memberikan imbal hasil.
Sejak konflik pecah akhir Februari, emas sudah turun sekitar 15% dan belakangan bergerak dalam kisaran sempit. Pada pukul 07:04 waktu Singapura, emas spot turun 0,1% ke US$4.470,10/oz, perak naik 0,1% ke US$73,95, sementara indeks dolar Bloomberg relatif datar setelah melemah tipis pada sesi sebelumnya.
Sumber : Newsmaker.id
