Harga emas dunia kembali mengalami tekanan tajam pada perdagangan Selasa (20/10/2026), setelah turun menembus level US$4.150 per troy ounce. Emas spot (XAU/USD) merosot ke sekitar US$4.135 pada awal sesi perdagangan Asia, memperpanjang pelemahan setelah sebelumnya sempat menunjukkan pemulihan. Penurunan ini terutama dipicu oleh meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang membuat emas kehilangan sebagian daya tariknya di mata investor, meskipun harga energi global mulai menunjukkan penurunan.
Tekanan terhadap emas semakin besar setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS mengalami kenaikan di berbagai tenor. Yield Treasury dua tahun naik lebih dari 3 basis poin menjadi 4,778%, sementara yield obligasi sepuluh tahun meningkat lebih dari 4 basis poin ke level 5,144%. Sementara itu, yield obligasi tiga puluh tahun turut naik lebih dari 4 basis poin menjadi 5,476%. Kenaikan tersebut membuat obligasi pemerintah AS semakin menarik karena menawarkan imbal hasil lebih tinggi, sedangkan emas tidak memberikan bunga. Akibatnya, sebagian investor berpotensi mengalihkan dana dari emas menuju instrumen berbunga.
Selain faktor kebijakan moneter Amerika Serikat, gejolak politik di Eropa turut memengaruhi pasar obligasi global. Kerusuhan yang meluas di Prancis sepanjang akhir pekan sebelumnya memicu aksi jual obligasi pemerintah negara tersebut. Tekanan pada pasar obligasi Eropa ikut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas keuangan global dan menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan kenaikan yield obligasi AS. Situasi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap emas tidak hanya berasal dari kondisi ekonomi Amerika, tetapi juga dipengaruhi perubahan sentimen pasar keuangan internasional.
Di sisi lain, investor masih mencermati arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) menjelang pertemuan pada 27–28 Oktober. Pada September lalu, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, yang menjadi kenaikan pertama sejak 2023. Namun, pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang tidak memberikan sinyal kenaikan bunga lanjutan membuat pasar memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga pada Oktober. Berdasarkan CME FedWatch, peluang The Fed menahan suku bunga mencapai sekitar 82,8%, meskipun data inflasi AS terbaru menunjukkan tekanan harga yang masih tinggi.
Ke depan, harga emas diperkirakan tetap sensitif terhadap pergerakan yield Treasury AS, dolar, dan perubahan ekspektasi suku bunga The Fed. Secara teknikal, area US$4.150 yang sebelumnya menjadi batas penting kini berpotensi berperan sebagai resistance terdekat, sementara kawasan US$4.120 hingga US$4.100 menjadi area penurunan berikutnya yang perlu diperhatikan. Apabila yield obligasi terus meningkat, tekanan jual terhadap emas berisiko berlanjut. Sebaliknya, jika yield mulai turun dan pasar semakin yakin The Fed mempertahankan suku bunga, emas berpeluang kembali pulih. Pertanyaan besarnya, apakah penurunan ini hanya koreksi sementara atau awal dari tekanan yang lebih dalam menuju US$4.100?
Sumber: Newsmaker.id
