Harga emas masih bergerak tertekan di sekitar US$4.300 per troy ounce pada perdagangan Senin (14/09) setelah mencatat penurunan selama tiga pekan berturut-turut. Tekanan datang dari lonjakan harga minyak dan meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga.
Harga minyak melonjak mendekati level tertinggi empat bulan setelah Arab Saudi menutup pipa utama yang digunakan sebagai jalur alternatif untuk menghindari Selat Hormuz. Penutupan tersebut terjadi menyusul serangan drone dan kembali memperbesar kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Kenaikan harga minyak memperkuat risiko inflasi di tengah konflik Timur Tengah yang masih berlangsung. Kondisi tersebut membuat pasar semakin yakin The Fed akan mempertahankan sikap hawkish. Pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 86% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Rabu.
Data inflasi AS pada Jumat menunjukkan CPI tahunan bertahan di 3,4% pada Agustus, sesuai perkiraan, sementara inflasi bulanan naik 0,4%, menjadi kenaikan tercepat dalam tiga bulan. Harga produsen juga mengalami percepatan, sementara pasar tenaga kerja masih menunjukkan ketahanan.
Emas saat ini menghadapi tekanan dari dua arah. Konflik Timur Tengah sebenarnya dapat mendukung permintaan safe haven, tetapi lonjakan minyak juga meningkatkan risiko inflasi, mendorong ekspektasi suku bunga dan yield lebih tinggi. Selama pasar masih memperkirakan kenaikan bunga The Fed, kenaikan Gold berpotensi tetap terbatas meskipun risiko geopolitik belum mereda.
Sumber: Newsmaker.id
