Harga emas bertahan di sekitar US$4.330 per ons pada perdagangan Rabu setelah merosot hampir 6% dalam tiga sesi terakhir. Logam mulia tersebut sebelumnya menyentuh level terendah dalam dua pekan akibat tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar AS.
Imbal hasil obligasi global melonjak ke level tertinggi sejak 2008, sehingga meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan bunga. Tekanan semakin besar setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan komitmennya memerangi inflasi, sementara konflik AS–Iran kembali mendorong harga minyak naik.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang hampir 70% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan 15–16 September. Eskalasi serangan antara AS dan Iran dikhawatirkan mengganggu pasokan energi, memperpanjang tekanan inflasi, dan memaksa bank sentral mempertahankan kebijakan yang lebih ketat.
Tekanan turut datang dari imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 30 tahun yang kembali menembus 5,28%. Gubernur The Fed Michael Barr juga mengatakan bank sentral harus siap menaikkan suku bunga apabila inflasi gagal mereda dan berisiko semakin mengakar.
Sentimen emas dalam jangka pendek masih cenderung tertekan selama imbal hasil obligasi, dolar AS, dan ekspektasi kenaikan suku bunga terus menguat. Risiko geopolitik dapat memberikan dukungan sebagai aset aman, tetapi untuk sementara kekhawatiran inflasi dan kebijakan hawkish The Fed lebih dominan dalam mengarahkan harga emas.
Sumber: Newsmaker.id
