Harga emas kembali melemah dan turun ke bawah level US$4.100 per troy ounce pada perdagangan terbaru. Tekanan ini muncul setelah aksi jual saham teknologi di Wall Street membuat investor memangkas kepemilikan emas untuk menutup kerugian pada aset lainnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa emas tidak selalu langsung menguat saat pasar sedang panik.
Spot emas turun ke sekitar US$4.083,77 per troy ounce pada pagi hari waktu Singapura, setelah sebelumnya melemah 1,7% dan mencatat penutupan terendah dalam dua pekan.Saat berita ini ditulis harga Emas mengeluarkan dikisaran US$4.102 oz. Perak juga ikut turun 1,1% ke level US$60,86 per ounce, sementara platinum dan paladium melemah. Pelemahan ini menandakan terjadi tekanan yang cukup luas di pasar logam mulia.
Aksi jual emas kali ini banyak dipengaruhi oleh kebutuhan likuiditas investor. Saat pasar saham turun tajam, terutama karena tekanan di sektor teknologi, sebagian investor menjual emas untuk mendapatkan dana tunai. Dengan kata lain, emas yang biasanya dianggap sebagai aset safe haven justru bisa ikut tertekan ketika pasar mengalami aksi jual besar-besaran di seluruh aset.
Tekanan terhadap emas juga datang dari penguatan dolar AS. Indeks dolar sempat naik 0,4%, membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain. Pada saat yang sama, obligasi pemerintah AS juga menguat, mencerminkan perpindahan dana ke aset yang dianggap lebih aman, tetapi tetap memberi tekanan pada emas karena pasar masih berhubungan dengan arah suku bunga.
Sektor teknologi menjadi pemicu utama gejolak pasar. Kekhawatiran bahwa reli saham berbasis kecerdasan buatan atau AI sudah berjalan terlalu jauh membuat investor mulai posisi mengurangi pada saham-saham risiko. Tekanan tersebut menyebar ke pasar Asia, sehingga sentimen negatif terhadap aset berisiko semakin besar dan menambah tekanan terhadap emas.
Selain faktor saham teknologi, emas juga masih membayangkan ekspektasi bahwa Federal Reserve berpotensi menaikkan suku bunga. Nada hawkish dari Ketua The Fed Kevin Warsh membuat investor kembali mempertimbangkan risiko inflasi dan kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi ini mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan hasil yang imbal, meskipun sebelumnya sempat mendapat dukungan dari perjanjian damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran.
Sumber: Newsmaker.id
